Selasa, 08 Januari 2013

Resensi Novel Canting


Ø  Judul Buku                  : Canting
Ø  Penulis                         : Arswendo Atmowiloto
Ø  Penerbit                       : PT Gramedia Pustaka Utama
Ø  Tebal                           : 408
Ø  ISBN                           : 978-979-22-3249-3

Tema  : Mengenalkan Canting (alat membatik) kebudayaan Indonesia

Yang ingin disampaikan : Raden Ngabei Sastrokumo merupakan seorang pengusaha batik tulis yang terkenal terutama di kota Solo. Kota Solo memang merupakan kota yang terkenal dengan batiknya. Raden Ngabei Sestrokusumo adalah seorang keturunan keraton, kaya serta dihormati dan disegani oleh semua orang. Dia jatuh cinta pada salah satu buruh pabriknya yang bernama Tuginem. Karena status ekonomi dan sosial yang berbeda, hubungan Raden Ngabei dan Tuginem tidak direstui keluarga besar Raden Ngabei Sestrokusumo. Dia sangat mencintai Tuginem. Meskipun tanpa persetujuan keluarga, kehidupan rumah tangga Raden Ngabei dan Tuginem sangat harmonis, rukun, bahagian dan dikaruniai enam anak. Karena dilahirkan di keluarga pengusaha batik dan pengalaman Tuginem yang didapatnya saat ia masih menjadi buruh di perusahaan batik, akhirnya mereka membuka usaha sendiri batik tulis yang diberi nama “Canting” setelah menikah dengan Raden Ngabei, Tuginem dipanggil dengan nama ibu Bei.
Usaha canting yang didirikan ternyata mengalami kemajuan yang pesat, hasil karya batik tulisnya banyak digemari dan di kagumi oleh masyarakat kota Solo bahkan luar kota Solo. Ibu Bei dibantu oleh beberapa karyawan yang dapat dipercaya. Oleh Raden Ngabei dan Tuginem batik canting yang diproduksi dari perusahaan mereka dipasarkan di pasar Klewer dan dengan anak buahnya sendiri Bu Bei mengelola atau menekuni langsung usaha mereka. Walaupun Bu Bei adalah seorang wanita karier, ia tidak melupakan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga. Di rumah Bu Bei melayani suaminya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Membuatkan kopi, menyiapkan air hangat untuk mandi, menyiapkan makanan, setiap hari itulah tugas Bu Bei dalam melayani suaminya setiap hari. Keenam anaknya juga tumbuh menjadi anak yang membanggakan. Dengan usahanya itu Bu Bei dapat menyekolahkan anak-anaknya dengan baik. Anak yang sulung Wahyu Dewabrata menjadi dokter, Lintang Dewanti menjadi istri Kolonel, Bayu Dewasunu menjadi dokter gigi, Ismaya Dewakusuma menjadi Insinyur, Wening Dewamurti menjadi dokter yang kemudian menjadi kontraktor yang sukses, serta si bungsu Subandini Dewa Putri menjadi Sarjana Farmasi. Teknologi semakin lama makin modern dan banyaknya persaingan dari pengusaha lain.Kesuksesan batik canting lama kelamaan merosot.

Selain itu kekuatan Ibu Bei dalam mengurus batiknya dan mengurus kehidupan rumah tangganya semakin lama semakin berkurang karena termakan usia. Canting produk mereka mulai mendapat saingan berat dari perusahaan pabrik besar dan modern. Penjualan batik yang begitu sulit dan hasil yang sangat kurang dan juga tidak ada satupun dari anak-anaknya yang mau meneruskan usaha batik tersebut, dengan terpaksa Bu Bei menutup usaha batik cantingnya. Tetapi anak bungsu mereka Subandini Dewa Putri merasa tergugah hatinya untuk mengambil alih usaha tersebut. Dia tidak rela jika usaha keluarganya hancur begitu saja. Dia ingin membangkitkan kembali usaha keluarganya namun terjadi perselisihan diantara mereka namun perselisihan tersebut dapat diselesaikan oleh Raden Ngabei. Tidak lama kemudian Bu Bei meninggal.

Nilai-nilai kebudayan yang dapat diambil pelajaran.  Dengan membaca novel ini secara tidak langsung kita dapat mengetahui suatu kebudayan adat Jawa. Dari perilaku etika bersosialisasi, berkomunikasi bahkan kita dapat melihat tingkatan-tingkatan sosial atau strata sosial pada masyarakat Jawa. Novel ini juga menjelaskan tentang tinjauan femenisme yaitu usaha pemahaman perempuan atau wanita seperti tercermin dalam karya sastra. Dalam novel ini menceritakan status sosial wanita dalam masyarakat dan keluarga, pada dasarnya di novel ini menceritakan adat Jawa yang pada saat itu masih menjunjung nilai lapisan-lapisan dalam masyarakat sehingga memberikan deskriminasi terhadap kesenjangan masyarakat golongan bawah atau pekerja buruh.

Novel canting ini awalnya menceritkan wanita bukanlah siapa-siapa yang tugasnya hanyalah mengurusi rumah tangga dan anak-anaknya. Namun dengan adanya Pasar Kelewer memberikan suatu yang sangat berharga karena dengan adanya Pasar Kelewer dapat memberikan suatu kebebasan berkarya dan berkarir. Pasar Kelewer bukan hanyalah sebuah pasar yang setiap pagi dan siang ramai dikunjungi penjual dan pembeli ketika malam hilang dimakan kesenyapan, menurut para wanita, Pasar Kelewer adalah jati diri mereka, dan hasil jerih payah itu mereka pun mampu menghidupi keluarganya, walaupun begitu mereka tidak melupakan asal mereka yaitu sebagai ibu rumah tangga yang suatu saat melayani anak-anaknya dan suaminya. “Walaupun Bu Bei telah menjadi seorang wanita karir ia tidak meninggalkan tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga. Dia tetap melayani suami dan anak-anaknya dengan baik”. Hingga akgirnya dengan adanya novel ini petan wanita sangatlah penting dalam kehidupan berkeluarga.

Novel ini juga menceritakan kultur budaya Jawa. Pada masa kejayaannya, batik tulis, tak hanya menampilkan sebuah barang berbentuk kain bercorak semata. Proses didalamnya, bagaimana Canting, carat tembaga untuk membatik, yang ditiup dengan napas dan perasaan oleh para buruh batik, menjadikannya sebuah masterpiece, karya terbesar, warisan budaya yang adiluhung dari Tanah Jawa.
 
Pokok  - pokok isi buku  :
1.       Pak Bei, adalah generasi pertama keluarga Ngabean yang mendobrak tradisi dengan menikahi anak buruh. Karenanya, dia disebut sebagai aeng-aneh, berbuat yang tidak Jawa. Digambarkan memiliki sifat sak karepe dewe-seenaknya sendiri, malas, hidup bergantung dari penghasilan sang istri, tetapi juga bersifat bijak, tegas, berwibawa, berwawasan luas dan sangat mengagumi sang istri.
2.      Bu Bei, cepat beradaptasi dari seorang anak buruh batik menjadi seorang istri yang bekti-patuh pada suami, sekaligus pengusaha dan penjual batik yang trengginas, yang mampu mengatasi hal-hal sekecil apapun baik itu menyangkut buruh-buruhnya, pembelinya di pasar, maupun adik dan kakak suami yang sering menggerogotinya.
Adalah para buruh, yang merupakan inti dari cerita novel ini sendiri. Banyak sisi kemanusiaan yang paling mendasar, bisa diambil dari cerita para buruh ini. Bagaimana mereka hidup, bersyukur dan mengabdi, tergambar jelas disini. Makanya, ia merasa bahwa pengabdian dirinya adalah bagian yang pokok dari mengutarakan rasa bersyukur. Kepasrahan-penyerahan secara ikhlas-adalah sesuatu yang wajar. Bukan kalah. Bukan mengalah. Potret kehidupan wong cilik, yang nerimo-pasrah, ikhlas dan tak pernah neko-neko. Sangat biasa. Sangat sederhana.

Bagian akhir menceritakan bagaimana Batik jenis printing-cetak perlahan mengikis pasar batik tulis yang mahal. Modernisasi menuntut hasil yang efektif, tanpa menghabiskan banyak waktu dan tenaga kerja, hampir membuat Ni menyerah. Saat kesadarannya pulih, Ni mencari jalan keluar kegelisahannya dengan membangkitkan sosok buruh batik dalam dirinya. Ni merasa, mereka inilah sesungguhnya manusia-manusia perkasa yang bisa mendongak menatap matahari, dengan mata menunduk. Mereka inilah yang menemukan cara hidup yang tetap hormat, dengan menenggelamkan diri memutuskan melepas cap Canting dan menyerahkan kepada perusahaan besar. Mereka membeli, dan menjualnya dengan cap milik mereka. Dengan jalan seperti inilah, para buruh itu tetap hidup, tetap bekerja demikian pula dengan usaha batiknya. Cara bertahan dan bisa melejit bukan dengan menjerit,. Bukan dengan memuji keagungan masa lampau, bukan dengan memusuhi. Tapi dengan jalan melebur diri.

Keunggulan novel  : Pada novel ini sangat bagus karena memperkenalkan tentang budya Indonesia . kepada para pembaca nya.

Kelemehan novel : Bahasa nya terlalu rumit untuk dimengerti, terlalu banyak bahasa jawa.  Jadi, untuk orang yang membaca bukan dari kalangan jawa sulit untuk mengerti maksud dari novel tersebut.

Resensi Novel Kau Memanggilku Malaikat


Ø  Judul Buku                  : Kau Memanggilku malaikat
Ø  Penulis                         : Arswendo Atmowiloto
Ø  Penerbit                       : PT. Gramedia Pustaka Abadi
Ø  Tebal                           : 272
Ø  ISBN                           : 978-979-22-4093-1
Tema : Semua orang menyebut “AKU” sebagai Malaikat Pencabut Nyawa.
Yang ingin disampaikan : Semua orang pasti mati. Kita semua tahu itu. Yang kita belum tahu adalah malaikat yang kita temui saat ajal menjemput. Siapa dan seperti ada ia? Kali ini, Arswendo Atmowiloto memperkenalkannya pada kita.
"Benar kan, kau malaikat?"
"Kau biasa memanggilku begitu. Kalian biasanya menyebutku begitu.
Si "Aku" adalah malaikat, yang datang menjemput setiap manusia menjelang proses kematian. Si "Aku" menolak prosesi penjemputan ini disebut sebagai sebuah tugas. Si "Aku" juga protes bila ia disebut mencabut (nyawa).
Dalam proses penjemputan nyawa yang akan terpisah dari jasad, Si "Aku" tidak tebang pilih. Siapa saja yang menunjukkan getaran kematian, pasti dijemputnya - dengan rasa, ekspresi dan sikap yang sama.
Tak jadi soal buat Si "Aku" bagaimana detil curriculum vitae calon arwah. Apakah dia seorang perempuan tegar dan istri setia Tesarini Soemar; Popon, ahli kriminal alias preman yang dibakar hidup-hidup; Ife, gadis cantik yang mati ditembak karena menolak diperkosa, hingga seekor ayam.
Tidak ada yang aneh pada semua kliennya itu. Selama ini, menurut Si "Aku" semua berlangsung sama. Tidak ada hal khusus, malaikat hanya menemani dan berbincang seperlunya sampai masa perpisahan tiba manusia yang sudah dijemput harus beranjak ke alam lain.
Hingga suatu hari, Si "Aku" bertemu Di, gadis kecil hampir empat tahun yang juga dijemputnya dari pangkuan kedua orang tuanya. Di berbeda. Si "Aku" hampir saja tidak menyadari Di berbeda. Ada apa dengan Di? Hanya Si "Aku" malaikat yang tahu jawabannya.
Novel Arswendo ini seakan berbicara tentang senyawa malaikat yang bisa melekat dalam diri manusia.
Seperti Tesa yang menjalani kehidupan dengan ikhlas, setia dan tulus mengabdi, walaupunseumur hidup ia dikhianati suami dan sempat kehilangan cita-cita.
Begitu pula dengan Ife yang ditembak mati polisi setelah menolak diperkosa. Ife juga tidak berniat jadi malaikat. Keinginannya sederhana, jadi manusia dan hidup bahagia dengan kesederhanaan yang dimilikinya.
Sebagaimana Si "Aku", baik Tesa, Ife sampai seorang Di menjalani hidup mengikuti kata hati. Saat mereka berkorban, berbuat baik atau bahkan tidak sadar sedang berbuat baik, mereka tidak melihat itu sebagai tugas atau kewajiban. Mereka hanya tergerak untuk melakukan semua itu, meski mereka tidak bisa seperti malaikat yang memperlakukan semua kliennya sama.


Pokok – Pokok Isi Buku :
1.      Ny Tesa Soemar ( Tesarini ) adalah seorang istri yang setia, tulus, tegar, dan penuh kasih sayang. Sampai pada saatnya dia di vonis mengidap penyakit kanker ganas indung telur yang telah menyebar ke kelenjar getah beningnya. Sampai pada saatnya tiba datang sesosok yang di sebut sebagai malaikat yang telah ingin menjemputnya. Berbagai banyak hal dia tanyakan kepada malaikat, termasuk tentang keadaan suaminya yang telah meninggal terlebih dahulu. Dia bertanya tentang kehidupan yang akan dia jalani setelah mati dan bagaimana tentang malaikat menjemput orang lain dalam waktu yang bersamaan.
2.       Ife adalah gadis remaja yang cantik, baik dan sexy. Dia sangat di senangi teman – temannya dan banyak teman – teman pria yang jatuh hati padanya. Setelah terjadi seleksi akhirnya hanya Ridwan yang Ife pilih untuk menjadi pendampingnya. Namun itu tidak berlangsung lama karena Ridwan merasa dirinya tidak punya apa – apa di bandingkan dengan Acin yang merupakan anak orang kaya di kampungnya. Setiap datang ke rumah Ife, Acin selalu membawakan oleh – oleh yang banyak untuk Ife.
Suatu ketika  Ife ingin pergi ke warung untuk membeli kaos kaki dan di antar oleh Bang Bondan. Ife di suruh mengenakan jaket oleh ibunya, namun jaket itu hanya di pakai asal – asalan olehnya. Di tengah jalan motor Bang Bondan mogok karena kehabisan bensin, terpaksa Bang Bondan memberhentikan motor yang jalan di sekelilingnya dan meninggalkan Ife sendiri. Bang Bondan bingung saat kembali Ife sudah tidak ada, dia berfikir bahwa mungkin Ife kesal karena lama menunggu. Bang Bondan mencari – cari Ife sampai ke rumah Ife meskipun dia tau tidak mungkin Ife pulang ke rumah lagi. Di semak –semak dekat pohon besar Ife di bawa oleh seorang lelaki ( polisi ) yang tadi di tumpangi oleh Bang Bondan, ternyata lelaki tersebut punya niat tidak baik kepada Ife. Lelaki tersebut ingin memperkosa Ife namun Ife memberontak sehingga dia di pukul oleh pistol hingga mengalirlah darah dari kepalanya. Ife masih terus memberontak dan memaki karena lelaki tersebut mulai menyentuh kemaluannya, hingga akhirnya lelaki tersebut menembak Ife dan mengalirlah darah di sekujur tubuhnya.
Ife terkulai lemas dan tidak berhenti berteriak dengan suara paraunya untuk meminta tolong di belakang pohon besar itu, sampai malaikat menghampirinya dan berkata akan menjemputnya untuk menuju ke kehidupan yang bahagia, tidak ada lagi sakit dan pelecehan. Ife menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang, di alam barunya dia dapat melakukan apa pun kesukaannya, seperti bermain dengan burung dan kupu – kupu putih serta bersepeda seperti impiannya.
3.      Popon adalah seorang preman yang hidupnya selalu merampas milik orang lain. Sampai pada suatu saat dia di bakar hidup – hidup karena merampas milik seseorang di pasar. Dan malaikat pun segera menjemputnya.
4.      Wedhi adalah seorang anak kecil yang sangat pintar, banyak orang yang menyukainya. Sejak bayi dia mempunyai penyakit paru – paru sehingga dia sering sakit dan terbaring lemas di rumahnya. Sampai pada saatnya Di sudah menjelang masa – masa penjemputannya, Di melihat malaikat yang seakan dia sudah sering melihatnya. Disinilah Malaikat sempat tergoda akan pesona kehidupan.


Sudah banyak novel yang mengangkat tema mengenai kematian. Novel karya Arswendo Atmowiloto ”Kau Memanggilku Malaikat” memang bertemakan kematian. Namun, tidak seperti apa yang biasa dipikirkan pembaca. Novel ini menggambarkan seakan-akan kematian adalah hal yang wajar, hal yang biasa saja terjadi. Melalui novel ini, Arswendo seakan menegaskan kematian itu mau tak mau akan datang. Seharusnya menjadi suatu hal yang biasa dan tak perlu ditakuti.
Diceritakan tokoh aku dalam novel ini adalah seorang malaikat yang bertugas menjemput nyawa-nyawa orang yang telah menunjukkan sinyal-sinyal kematian. Mengapa Arswendo tidak menyebutnya ’malaikat pencabut nyawa sebagaimana kebanyakan orang menyebut. Malaikat dalam novel ini memang tak bertugas untuk mencabut nyawa seseorang. Ia hanya menghampiri orang-orang yang telah menunjukkan sinyal kematian. Ia akan menunggu mereka lepas dari raga masing-masing lalu mengantarkan mereka ke tempat selanjutnya secara bertahap sebelum benar-benar sampai di surga.
Sang malaikat bisa menemui mereka di berbagai tempat berbeda, dalam waktu yang sama. Ia menghibur, namun tak sepenuhnya menolong mereka untuk tidak mati pada saatnya. Ia menjemput berbagai orang, mulai dari seorang istri yang setia dan tulus mengabdi pada suami, seorang preman yang dibakar hidup-hidup dan tak mau dikasihani, seorang gadis penuh pesona yang ditembak mati karena menolak diperkosa, seorang pengemudi dan penumpang bus yang kecelakaan hingga juga seekor ayam.
Ia menghampiri orang-orang yang menunjukkan sinyal kematian, akan langsung mengetahui segala sejarah dan riwayat mereka. Sehingga ketika mereka meninggalkan raga mereka dan bisa melihat Sang Malaikat tersebut, malaikat langsung dapat menjalin komunikasi yang efektif dengan mereka. Seperti penunjuk jalan dan pengantar yang baik, malaikat akan menjawab pertanyaan apa pun yang ditanyakan kepadanya. Melalui percakapan itulah alur cerita terjalin.
”Benar kan, kau malaikat?”
”Kau bisa memanggilku begitu. Kalian biasanya menyebutku begitu.”
”Berarti benar kau datang untuk mencabut nyawaku.”
”Tidak persis begitu. Aku tidak datang mencabut nyawa....aku datang menjemput.”
Begitulah Sang Malaikat menjalani tugas-tugasnya. Semuanya biasa tak ada yang berkesan menurutnya. Ia menjalani seolah angin yang memang diciptakan untuk bertiup. Ia pun beranggapan serupa, ia diciptakan untuk menjemput nyawa. Itu saja, tak ada yang spesial dari itu.
Hingga kemudian ia bertemu, tepatnya akan menjemput seorang anak perempuan yang sudah menunjukkan sinyal kematian yang kuat. Sejak itulah ia merasa ada yang berubah dari aktivitasnya. Anak perempuan itu dirasakannya tidak seperti nyawa-nyawa lain yang ia jemput. Ia begitu tergoda dengan gadis kecil itu. Hingga sempat pula tergoda pada dunia.
Namanya Di, usianya belum empat tahun. Sejak kecil ia menderita kelainan pada paru-paru. Anehnya Di seakan bisa berkomunikasi dengan orang tuanya. Walaupun orang tuanya tak mengetahui keberadaan Di disekitarnya, mereka seolah dapat mengetahui apa yang ia katakan. Di pun, dapat membatalkan kematian seseorang ditambah pula ia tak menunjukkan tanda-tanda harus berpindah ke tahap selanjutnya dalam kehidupan. Sejak saat itulah Sang Malaikat merasakan perbedaan”Apakah Di juga malaikat seperti dirinya?” begitulah ia bertanya pada dirinya sendiri.
Walaupun berbicara mengenai kematian dan kehidupan setelah mati. Arswendi berhasil tidak menyangkutkan cerita dalam novel ”Kau memanggilku malaikat” dengan agama tertentu. Bahkan cerita-cerita yang berkaitan tentang kehidupan setelah kematian berhasil tidak mengarah ke salah satu agama. Hasilnya novel ini menjadi pengingat bahwa kematian pasti akan datang, tanpa sedikit pun menghadirkan rasa takut. Arswendo berhasil menyajikan cerita tentang kematian dari sudut yang berbeda.

Kesimpulan : Novel ini menceritakan tentang bagaimana tentang kehidupan setelah mati, bagaimana cara malaikat menjemput seseorang.

Keunggulan novel : Menggunakan konsep penulisan yang vulgar, dalam artian kejadian apapun yang terdapat dalam novel, diceritakan secara rinci baik kejadian buruk atau baiknya. Dengan basic sastrawan yang disandang arswendo, ia mampu memilih padanan kata yang tepat sehingga novel yang sebenarnya kasar dapat dihayati dengan lembut dan bermakna. Secara desain, covernya yang soft warna putih susu dengan tipografi judul yang rapi membuat novel ini berada diantara novel santai atau novel serius.

Kelemahan novel : Terlalu banyak kata-kata istilah yang tidak dimengerti oleh orang biasa dan kadang di beberapa bagian, unsur sastra sangat terasa sehingga dalam memahami makna cerita kita dibuat memikirkan dalam rangkaian kata tersebut.

Evaluasi Keberhasilan Koperasi dilihat dari Sisi Perusahaan


BAB 10 : Evaluasi Keberhasilan Koperasi dilihat dari Sisi Perusahaan

1.      Efisiensi Perusahaan Koperasi
2.      Efektivitas Koperasi
3.      Produktivitas Koperasi
4.      Analisis Laporan Keuangan


1.      Efisiensi Perusahaan Koperasi
Tidak dipungkiri bahwa koperasi adalah badan usaha yang kelahiranya dilandasi oleh fikiran sebagai usaha kumpulan orang-orang bukan kumpulan modal. Oleh karena itu koperasi tidak boleh terlepas dari ukuran efisiensi bagi usahanya, meskipun tujuan utamanya melayani anggota.
Ukuran kemanfaatan ekonomis adalah manfaat ekonomi dan pengukurannya di hubungkan dengan teori efisiensi, efektivitas serta waktu terjadinya transaksi atau diperolehnya manfaat ekonomi.

Ø  Koperasi sebagai badan usaha juga berarti merupakan kombinasi dari :
a.       Manusia
b.      Aset-aset fisik dan non fisik
c.       Informasi
d.      Teknologi

Ø  Modal dasar suatu perusahaan bisnis diperoleh dari teori perusahaan adalah menekankan bahwa perusahaan perlu menetapkan tujuan sehingga perusahaan dapat menentukan apa yang harus dilakukan.

Ø  Tujuan umum perusahaan :
a.       Memaksimumkan keuntungan
b.      Memaksimumkan nilai perusahaan
c.       Memaksimumkan biaya
Efisiensi : Penghematan input yang diukur dengan cara membandingkan input anggaran atau seharusnya (la) dengan input realisasi atau sesungguhnya (ls), jika ls < la disebut efisien.
Efisien merupakan perbandingan antara output dengan input.
Rumus :
            Efisiensi =
·         Menurut Thoby Mutis (1902), 5 lingkup efisiensi koperasi :
a.       Efisiensi intern
b.      Efisiensi alokatif
c.       Efisiensi ekstern
d.      Efisiensi dinamis
e.       Efisiensi sosial

·         Status anggota koperasi adalah :
-          Sebagai pemilik (melakukan investasi)
-          Sebagai pemakai (menggunakan secara maksimum pelayanan usaha yang diselenggarakan koperasi)

·         Dihubungkan dengan waktu terjadinya transaksi/diperolehnya manfaat ekonomi oleh anggota dapat dibagi menjadi 2 jenis manfaat ekonomi yaitu :
(1). Manfaat ekonomi langsung (MEL)
(2). Manfaat ekonomi tidak langsung (METL)
- MEL adalah manfaat ekonomi yang diterima oleh anggota langsung diperoleh pada saat terjadinya transaksi antara anggota dengan koperasinya.
Contoh : dapat memenuhi kebutuhan anggotanya

-          METL adalah manfaat ekonomi yang diterima oleh anggota bukan pada saat terjadinya transaksi, tetapi diperoleh kemudian setelah berakhirnya suatu periode tertentu atau periode pelaporan keuangan/pertanggung jawaban pengurus dan pengawas, yakni penerimaan SHU anggota.
Contoh : memungkinkan perusahaan koperasi untuk mengembangkan usaha diluar kebutuhan anggotanya.

·         Kunci utama efisiensi koperasi adalah : pelayanan usaha kepada anggotanya.


·         Manfaat ekonomi pelayanan koperasi yang diterima anggota dapat dihitung dengan cara sebagai berikut :
TME = MEL + METL
MEN = (MEL + METL) – BA

·         Bagi suatu badan usaha koperasi yang melaksanakan kegiatan serba usaha (multi purpose), maka besarnya manfaat ekonomi langsung dapat dihitung dengan cara sebagai berikut :
MEL = EfP + EfPK + Evs + Evp + EvPU
METL = SHUa

·         Efisiensi Perusahaan/badan usaha Koperasi :
1.      Tingkat efisiensi biaya pelayanan BU ke anggota

(TEBP) =
                                    = jika TEBP < 1 berarti efisiensi biaya pelayanan BU ke anggota
2.      Tingkat efisiensi biaya usaha ke bukan anggota

(TEBU) =
                  = jika TEBU < 1 berarti efisiensi biaya usaha


2.      Efektivitas Koperasi
Efektivitas : Pencapaian target output yang diukur dengan cara membandingkan output anggaran atau seharusnya (Oa), dengan output realisasi atau sesungguhnya (Os), jika Os > Oa disebut efektif.
·         Rumus perhitungan Efektivitas Koperasi (EvK) :

EvK = 
= Jika EvK > 1, berarti Efektif

Efektivitas dipandang dari segi hasil yang dicapai oleh seseorang.

3.      Produktivitas Koperasi
Produktivitas : Pencapaian target output (O) atas input yang digunakan (I), jika (O>1) disebut produktif.

Rumus perhitungan Produktivitas Perusahaan Koperasi

(1). PPK =   100 %

(2). PPK =   100 %

·         Dari efisiensi berdasar hubungan Output dengan input didapat
Rumus :
                        Q =

Dimana = Q                : kuantitas produksi
                 k                 : kuantitas modal
                 L                 : kuantitas harga tenaga kerja
                 Bu,b1,b2    : parameret


4.      Analisis Laporan Keuangan

Laporan keuangan koperasi selain merupakan bagian dari sistem pelaporan keuangan koperasi, juga merupakan bagian dari laporan pertanggungjawaban pengurus tentang tata kehidupan koperasi. Dilihat dari fungsi manajemen, laporan keuangan sekaligus dapat dijadikan sebagai salah satu alat evaluasi kemajuan koperasi.
Modal koperasi digunakan untuk membiayai usaha dan organisasi koperasi yang terdiri dari modal investasi dan modal kerja.

·         Laporan keuangan koperasi pada dasarnya tidak berbeda dengan laporan keuangan yang dibuat oleh badan usaha lain. Secara umum laporan keuangan meliputi :
(1)   Neraca
(2)   Perhitungan hasil usaha (income statement)
(3)   Laporan arus kas (cash flow)
(4)   Catatan atas laporan keuangan
(5)   Laporan perubahan kekayaan bersih sebagai laporan keuangan tambahan.

·         Perbedaan perhitungan laporan keuangan
Badan usaha dan Koperasi
1.      - Perhitungan SHU pada koperasi menunjukkan usaha yang berasal dari anggota dan     bukan anggota.

·         Informasi perhitungan SHU :
1.      SHU total koperasi pada satu tahun
2.      Bagian SHU anggota
3.      Total simpanan seluruh anggota
4.      Total seluruh koperasi usaha
5.      Jumlah simpanan per anggota
6.      Volume usaha per anggota
7.      SHU untuk simpanan anggota
8.      SHU untuk transaksi usaha anggota

(1)   Setiap Rp. 1,00 Modal Koperasi menghasilkan SHU sebesar Rp. 1,00.
·         SHU yang dibagi sesuai aturan yang telah ditetapkan pada anggaran dasar sebagai berikut:
a.       Cadangan koperasi
b.      Jasa anggota
c.       Dana pengurus
d.      Dana karyawan
e.       Dana pendidikan
f.       Dana sosial
g.      Dana untuk pembangunan lingkungan.

(2)   Setiap Rp. 1,00 modal koperasi menghasilkan laba bersih dari usaha dengan non anggota sebesar Rp. 1,00.
SHU dibagi menurut besar uang yang diinvestasikan/hasil kerjasama dari non anggota koperasi untuk memajukan koperasi.
-          Alokasi pendapatan dan beban kepada anggota dan bukan anggota pada perhitungan hasil usaha berdasarkan perbandingan manfaat yang diterima oleh anggota dan bukan anggota.


2.      - Laporan koperasi bukan merupakan laporan keuangan konsilidasi dari koperasi.
-  Dalam penggabungan dua atau lebih koperasi menjadi satu badan hukum koperasi, jadi dalam penggabungan perlu memperhatikan nilai aktiva bersih yang rill dan perlu melakukan penilaian kembali.
-  Koperasi mempunyai perusahaan dan unit usaha yang berbeda dibawah satu pengelolaan maka disusun laporan keuangan konsilidasi/laporan keuangan gabungan.